Tanda-tanda Kehamilan Ektopik atau Hamil di Luar Kandungan

By January 3, 2015 Uncategorized No Comments

Awal minggu ini saya melewatkan liburan menginap di Hotel Mercure Convention Center, Ancol selama 3 hari 2 malam. Tidak disangka, setelah baru 2 malam tidur di rumah pulang dari Ancol, saya dapat rejeki untuk liburan lagi (baca: off duty dari kerjaan ibu rumah tangga) di rumah sakit. Not so much as a vacation though.

image

Kok bisa? Haid saya, yang biasanya hanya 6-7 hari, bulan kemarin molor hingga 2 minggu lebih, dari tanggal 16 desember hingga 1 januari. Tanggal 1 januari pun akhirnya berhenti karena dioperasi.

Ketika masih nginap di Ancol, sore hari kedua, tanggal 29 des, memang perut saya sakit. Saya pikir karena masuk angin. Setelah beberapa jam merasa ga enak, akhirnya sakit perut berkurang dan hilang setelah sukses buang air besar. Sampai pulang ke rumah dan besokannya pun sakit perut ga datang lagi, walaupun haid masih keluar.

Tanggal 31 des sore, mulai terasa perut sakit lagi menjelang keberangkatan kami ke rumah sepupu utk ngumpul makan malam sambil nyabu n bakar sate. Sakit perut saya tidak hilang, bahkan malah makin sakit. Dan walaupun sudah nongkrong di kamar mandi hampir setengah jam, tetap tidak ada yang keluar.

Sakit perut yang gak menghilang dan ga berkurang intensitasnya ini terus berlangsung sampai jam 1 malam, dan akhirnya saya memutuskan untuk ke rumah sakit. Saya khawatir saya keguguran karena sakit perutnya lama-lama mengingatkan saya akan sakit perut kontraksi menjelang melahirkan.

Sampai UGD rumah sakit, saya ceritakan kekhawatiran saya ttg kemungkinan keguguran dan juga keluhan lainnya. Dokter jaga meminta saya utk tes darah dan juga tes hamil dg urin. Saya dikasih pain killer dan obat anti perdarahan melalui infus.bTernyata dr tes urin memang dinyatakan saya positif hamil dan disarankan untuk rawat inap. Dokter jaga mengatakan saya mengalami kehamilan ektopik terganggu (KET).

image

Sore hari menjelang maghrib dokter kandungan saya akhirnya datang, dan setelah di USG, beliau mengkonfirmasi bahwa kehamilan saya memang kehamilan ektopik atau yang biasa kita kenal sebagai kehamilan di luar kandungan. Saya dikasih liat di layar USG besaran gumpalan darah di perut saya, diameter 6.5-7 cm, dan lokasinya yang memang tidak di dalam rahim. Dokter juga menjelaskan sakit perutnya/kram terasa sampai ke lubang anus, anus seperti didorong dr dalam dan panas. Persis seperti yang saya rasakan, makanya saya pikir saya sakit perut masuk angin, bukan hamil. Dokter langsung nyuruh utk dioperasi segera, malam itu juga sekitar jam 7. Rupanya mustinya dengan “penyakit” yang saya alami, pasien biasanya akan merasakan sakit yang hebat, ga akan bisa banyak gerak karena sakit, sementara saya masih bisa bercanda. Alhamdulillah utk itu. HB saya juga drop dengan cepat dalam hitungan 12 jam sementara perdarahan tidak keluar banyak.

image

Proses operasi tidak makan waktu terlalu lama untuk saya. Sekitar sejam. Bius yang digunakan adalah bius lokal, dengan epidural. Overall, prosedur operasinya mirip sekali dengan operasi caesar, dengan sayatan sekitar 15-17 cm. Perempuan yang berisiko mengalami kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan biasanya pernah mengalami infeksi atau penyakit seperti tipus. Selama operasi dokter kandungan saya ga berhenti nanya apa saya pernah kena infeksi atau tipus, dimana saya tidak pernah mengalami keduanya. Namun dokter saya melihat bahwa usus saya ada yang lengket dan berpendapat bahwa walaupun saya tidak ngeh, tapi saya pernah kena infeksi usus. Usus bisa jadi lengket karena pernah berdarah. Dan beliau menjelaskan infeksi seperti ini, silent infection, memang bisa tidak disadari karena pasien tidak mengalami panas tinggi, hanya sumeng aja. Dan karena badan saya agak bebal dengan rasa sakit, kemungkinan sakit perut saat saya kena infeksi usus tsb, ga terlalu mengganggu hingga ga merasa perlu ke dokter.

image

Pasca operasi, saya dikasih pain killer di ruang pemulihan, dikasih aliran hawa hangat di dalam selimut, dan setelah sekitar 50 menit sudah boleh kembali ke kamar biasa. HB saya makin turun selama operasi karena darah yang dikeluarkan cukup banyak, yang saya lihat di tabung dr suction di ruang operasi ada 600 ml, belum termasuk gumpalan darahnya dan yang lainnya. Menurut suster di bagian rawat inap, ada 900 ml darah saya yang keluar selama operasi. Hence, transfusi darah hinggal 4 bag karena selama operasi saja saya lihat kuku tangan saya putih. Pasti muka saya jufa kelihatan pucat. Tanpa transfusi, tensi saya juga sulit naik walaupun saat bag transfus pertama dipasang, saya sudah tidak terlalu pucat.

image

Setelah 24 jam pasca operasi, pagi ini kateter saya dilepas, saya disarankan untuk mulai duduk dan jalan-jalan (sebenarnya dari semalam sudah boleh, tapi karena tangan kiri saya sakit dan pegal selama transfusi dari kantong darah ketiga, saya jadi malas bergerak). Walaupun pasti terasa perih dan nyeri sedikit, tapi mulai bergerak akan membantu pemulihan otot perut dan juga membantu mengeluarkan angin karena usus saya akan ikut bergerak.

image

Menurut suster, biasanya pasien seperti saya, setelah operasi laparotomy, boleh pulang setelah 3-4 hari observasi pasca operasi.

Ga disangka, walaupun sudah punya anak 2, saya masih bisa missed kemungkinan hamil, atau keguguran, apalagi hamil di luar kandungan. Ga pernah kebayang bisa mengalami hamil diluar kandunga karena kehamilan pertama dan kedua alhamdulillah lancar, proses kelahiran dua-duanya lancar walaupun anak kedua lahir di usia kandungan 36 minggu, tapi tetap bisa lahir normal.

Jadi, ibu-ibu, kalau mengalami gejala rasa sakit perut atau kram seperti menjelang haid yang bertahan lama dan tidak berkurang, jangan ragu untuk segera periksa ke dokter kandungan. Apalagi kalau haid Anda sampai melebihi durasi normal. Walaupun kehamilan ektopik tetap harus dikeluarkan melalui operasi, tapi bisa menghindari Anda dari risiko perdarahan, pingsan dan yang lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.